ESENSI MEMBERI
Entah oleh orangnya atau oleh Tuhan. Saya belajar untuk memberi dengan hati yang memberi. Bukan dengan hati yang
ingin mendapat.
Saat kita membiasakan diri tidak berharap dan ikhlas, perasaan kita menjadi
baik. Dan dengan demikian juga kelakuan kita jadi baik.
Saya percaya jika kita terus menabur hal baik maka suatu saat pasti menuai
kebaikan. Ini sangat masuk akal.
Segala sesuatu yang kita lakukan di hidup kita adalah benih. Baik atau buruk,
semuanya benih. Ada benih yang setelah ditanam mati. Ada juga yang tumbuh subur
dan besar. Kita ngga pernah tau benih mana yang berhasil/gagal.
Bisa saja menanam 5 yang baik dan 1 buruk eh yang ternyata subur yang buruk.
Yang 5 mati. Atau lambat tumbuhnya jadi yang tertuai duluan justru yang buruk
cuma 1 itu. Itu namanya konsekuensi kehidupan. Cepat atau lambat kita harus
bertanggungjawab atas pilihan yang kita buat.
Kita ngga bisa mengubah apa yang sudah terjadi/terlanjur bibit buruknya.
Mudah-mudahan aja tu benih mati bisa juga
enggak. Tapi kita bisa terus menabur benih baik dalam hidup kita. Masa sih
nabur 1000 ngga ada satupun yang hidup tumbuh subur?
Jangan sibuk mikirin 1 yang jelek dan terlanjur ketanem. Sibuk aja tanem terus
yang bagus. Kalau di ladang ada 1 pohon tomat dan 100 pohon apel, mana yang
lebih mungkin kamu tuai?
Waktu kamu ikhlas mengerjakan kebaikan, logika tuaian Tuhan berbeda dengan
logika tuaianmu. Hasil panenmu memang apa yang kamu tabur dan pelihara. Tapi
jumlahnya? Jumlahnya suka suka Tuhan yang memberi pertumbuhan...
"Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah." (Galatia 6:9) TB.
Selamat mencoba untuk memberi dengan hati... GBU :)
Ikhlas hidup yang hebat
BalasHapus